Social Puppets

One of the endless issues in this world is about identity. And identity, for me, is about acceptance, whether it is by ourselves or by others. Both are really essential in determining how somebody would create his/her personality, something people unconsciously build under a lot of opinions.

Terserah mau terima teori gw ato nggak, but that's all I could think behind every people's personality. Mungkin ada juga orang yang kepribadiannya lepas dan liar, sama sekali nggak peduli dengan pendapat orang lain. Tapi kebanyakan orang pasti cenderung membentuk diri sebagaimana tanggapan orang-orang di sekitarnya. Like, "Aduh, lu ga bagus deh pake baju itu. Terlalu manis buat lu...", or, "Jangan bertingkah alay begitu deh. Apa? Ga terima? Please, lebay ah lo. Biasa aja kali."

Whatever it is, we are a social creature. Human needs to socialize. And if you're not acting like how the public likes it, then bam! Your whole life crushes! In a blink of an eye..

It is cruel, I must say, especially if we take a look at how hard it is to grab an identity. Everyday in this world, teenagers struggle to get themselves acceptance from their peers. Well, not only teenagers, it appears...But also the world of adults. We're struggling everyday to be more likeable, either by applying make ups, do some plastic surgery, pretending to love something we don't, or most of times, we pretend to be other people.

It's pathetic, don't you think so?

And I also think that all of it also depends at how we treat others too. We often says we want some change, we dont like people who judge on the first impression, etc, etc. But what we really do is totally the opposite. We judge people. We mistreat them. We're being the mean animals here.

Kenapa mau berteman aja harus pilih-pilih, dia keren atau nggak, dia kaya atau nggak, dia asik atau nggak? Bukankah yang terpenting dalam berteman adalah perasaan saling menerima, saling mengerti, dan saling menghargai? Bahwa orang tertentu, keren atau nggak keren, asik atau nggak asik, tetap bisa membuat kita nyaman dan menjadi diri kita apa adanya? Mengapa banyak orang yang menutup diri dalam pergaulan hanya karena beberapa kriteria-kriteria tertentu yang konyol?

Here I might sound hyprocicy, cuz in some situations I also can be quite picky when choosing friends, but only in special situation that makes me feel uncomfortable being around those poor people. (well, I cant deny that there's always someone who makes you really uneasy being close to them...)

But really, start from now, we gotta make some change. Dont take someone for granted, don't be picky while making friends, respect each others, and always try to put ourselves in people's shoes, so we know what they might think. Friendship is not always about money or having fun, but rather someone who can understand you, make you comfortable, and accept what we really are!

So, be nice to as many people as you can! =))

I KISS YOU KISS ME

"I'm doing whatever it takes to achieve success!"

Sering dengar, kan, kalimat kayak begitu?
Terutama untuk orang-orang yang tinggal di daerah perkotaan dengan tingkat persaingan super tinggi, gw yakin, deh, pasti pernah denger. Dan kalimat ini nggak terbatas di dunia kerja aja, tapi juga tumbuh berkembang biak di berbagai kalangan, apalagi di kalangan orang-orang berotak ambisius.

Untuk saat ini, gw masih mahasiswa. Mungkin sebentar lagi lulus (biarpun ada kemungkinan ga lulus semester depan juga, tapi amit-amit, jgn sampe deh). Dan, mendekati saat-saat semester puncak seperti ini, banyak hal-hal yang bisa diamati dari perilaku teman-teman gw di kampus, terutama karena kami sedang bareng-bareng mengambil mata kuliah prasyarat penulisan skripsi, juga mata kuliah prasyarat kelulusan. Nasib kami para mahasiswa semester 7 yang ingin lulus tepat di akhir semester 8 dipertaruhkan di semester ini.

Untuk itu, banyak di antara mereka yang melakukan cara apa pun untuk lulus mata kuliah-mata kuliah tersebut. Salah satu cara yang bikin gw jengah setengah mati adalah......

jeng jeng jeng!

Menjilat para dosen~

Yep, cara satu ini manjur banget buat bikin nilai kita dipastikan berada di posisi aman. Setidaknya dapet B gemuk deh, tergantung dari tingkat kegirangan dosennya. Cara yang dipake udah jelas. Bertingkah seperti seorang penggemar berat si dosen tersebut, kemudian tutur katanya diatur sedemikian rupa seakan-akan si dosen adalah tangan kanan Tuhan yang diturunkan ke muka bumi ini. Kalau perlu sekalian jadi 'budak'nya si dosen juga. Bawa-bawain barang dia, bolak-balik ngurusin absen, buang-buangin pulsa dan tenaga dan waktu demi menginformasikan sesuatu ke temen-temen yang laen, dan masih banyak lagi hal-hal yang ga kebayang sama otak gw.

Ada satu kelas yang gw ambil, di mana kelas ini juga merupakan mata kuliah prasyarat kelulusan dengan beban SKS yang nggak sedikit. Di kelas ini, gw sampe takjub melihat betapa banyaknya murid-murid yang bertingkah slutty demi mendapat perhatian sang dosen. Sampai-sampai, salah satu teman yang gw uda kenal lumayan lama (biarpun ga deket-deket amat juga sampe sekarang) ikut-ikutan jadi attention-whore juga. Beberapa orang lain bahkan bikin gw eneg saking kentaranya jilatan-jilatan mereka. Misalnya, mereka yang sehari-harinya bertingkah sangat menyebalkan dan very loud, tiba-tiba berlagak seakan-akan mereka orang yang sangat serius, hebat, dan bisa diandalkan di depan sang dosen. Apa-apaan coba? Hahaha.. Gw sih antara pengen ketawa atau pengen muntah-muntah aja liatnya.

Tapi gimana pun, cara itu ga salah kok. Karena kita emang hidup di hutan rimba. Masing-masing kita adalah predator yang sebagian besarnya bahkan siap membunuh kawanannya sendiri demi bertahan hidup.

Tapi sebagai manusia yang mengaku punya moral, gw ga yakin itu hal yang tepat untuk dilakukan. Toh, kita sering mengaku kalau manusia lebih beradab daripada hewan-hewan. Ada cara yang lebih elegan daripada menggunakan cara-cara yang ga keren seperti itu, misalnya, ehem...jadi mahasiswa yang cemerlang.

Namun sekali lagi, sayang sekali cara itu pun ngga akan bisa digunakan di Indonesia ini. Karena negara ini begitu tinggi dengan korupsi, bahkan moral sekalipun juga dikorupsi. Dosen-dosen yang bijak entah sudah pada menghilang kemana. Sebagian besar justru lebih senang dengan mahasiswa-mahasiswa bermulut manis daripada yang jelas-jelas brilian di kelasnya. Benar-benar wajah pendidikan yang sangat buruk rupa di Indonesia.

ASK!

Yesterday, I encountered a nice discussion about religions with my friends. At first, one of them commented about my "scary" tweets, about how a Korean painter was taken to the hell by Jesus Christ. There, He showed the painter the condition in hell, how people are so miserable because of the sins they'd committed, and ask him to paint that freightening views. My tweets basically criticized it, because I don't think that was for real. How could we know if it's real? How could we know if we're really going to hell or heaven? And the most important, can we avoid making sins?

My friend said my thoughts are scary, and she told me I couldn't do that, and I should've respected other people's beliefs.

I personally think those religious people must also respect what I believe too. It's because they always blabbering around about what they 'think' is the truth, while really, I am sure, they themselves don't know about how valid their beliefs are! So if people are talking so loud about what they believe, why can't I? Really, people nowadays are being so snobbish, just because they are majority and they think they hold the real truth and salvationism.

Anyway, it really comes to my mind about how this people trust something (their religions) so easily, even though, basically, their source is just the Holy Bible.

People trust everything written on their bible like they really hear God's speech directly from His mouth.

Me? I trust in God's existence. No wonder there's some very great power beyond our limitations as humans. But religion? How can I know it hasnt been interfered with people low rasionalism all this time?

I mean, it's been 2000 years since Christ. And bible is something that human had written. This fact, somehow, is more accurate than the bible content itself, since it's been written loooonngg ago, when people were copying some literatures by hands. That time, anything can happen. Those who'd done the copying might have put their thoughts instead of copying the real words. And then, there's a problem about translating the bible into English.

A lot of mistakes happen in those period of times, especially if we learn about the history of religions. (maybe that's why in teaching religions, people never teach the history part, because they know people who hear will doubt the religions in the end).

The question is, why people never ask?

I believe the answer to that question is because from they were born until now, they are taught to be afraid of God, and we better never doubt Him.

Yes, we must not doubt Him. But I really doubt what people are saying about Him. I dont want to trust something to easily just because other people say, "It's true!". I want to know the real truth behind it, that's why I doubt. I ask.

I believe by asking, by knowing more, we could find the real existence of God. Just like we wouldn't be able to fly nowadays if The Wright Brothers never dreamt about flying. I believe, we will never find the real Him if we didn't ask.

So trust in Him, but ask! Ask more! Doubt more! and then finally, hopefully, we will find the real Him. :))

Anime & Manga Freak Labels

Sejak kecil, gw suka banget sama yang namanya anime. Tepatnya, sejak gw nonton Sailormoon. Kemudian hobi gw ini merambah ke yang laen-laen. Gw jadi mengenal manga. Dari manga, gw mengenal dorama. Begitu seterusnya hingga tau-tau, gw uda jadi seorang fans J-Entertainment. Hampir semua sumber hiburan gw asalnya dari Jepang.

Hingga beberapa saat yang lalu, gw pernah berhenti jadi fans Jepang-jepangan. Alasannya simpel aja, karena gw beranggapan hasil budaya Jepang nggak seberapa keren dibanding negara laen.

Tapi, namanya hati emang ga bisa dibohongin.

Belakangan ini, gw mulai getol lagi nonton anime, denger lagu Jepang, nonton dorama, dll. Mereka bahkan rasanya lebih menarik daripada yang dulu. Ketika gw nonton anime / dorama, rasanya ada yang beda dengan ketika gw nonton film Hollywood ato Korea.

Dan lagi, gw suka dengerin orang Jepang ngomong. It's like they're singing in my ear. Hahahha..

But the problem is, seperti yang kita semua tahu, gak semua orang menganggap anime, dorama, atau hal-hail lain berbau J-Entertainment itu keren. Cenderung orang-orang di Indonesia ini menganggap yang keren itu dari Korea ato Barat, sedangkan Jepang cupu. Gara-gara itu, fans J-Entertainment sering dicap freak ato maniak, apalagi yg suka banget sama anime dan manga. Mungkin karena mereka berpikir kalo tokoh-tokoh dan cerita di anime / manga itu ga nyata, jadi ga perlu bereaksi terlalu berlebihan ato disukai ampe terlalu banget.

Gw pribadi sangat terbiasa dengan sebutan freak itu, meskipun tetep aja kalo dibilang begitu, rasanya pasti sedih juga. Gw selalu kepikiran kenapa orang-orang itu nggak pernah memberikan kesempatan, nggak pernah berusaha mengerti bahwa ini bukanlah suatu hal yang perlu dicela.

Kalau dibilang alasannya karena gw menyukai hal yang nggak nyata (misal tergila-gila bgt sama karakter anime tertentu), gw gak bisa terima. Kenapa? Liat aja cewek-cewek yg jadi fans drama-drama Korea. Apa mereka suka sesuatu yang nyata? Aktor-aktor yang main di dalamnya mungkin emang nyata dan berwujud, tapi tetep aja semua itu cuma khayalan. Aktor-aktor itu, begitu keluar dari drama yang mereka perankan, jadi orang yang berbeda sama sekali. Dan terutama, nggak tersentuh.

Mungkin banyak fans anime / manga yang jadi nggak sehat pikirannya karena terlalu nggak bisa membedakan khayalan mereka dan realita, misalnya dengan banyaknya kasus orang yang menikah dengan karakter anime ato dengan bantal di Jepang. Tapi gw sendiri pribadi selalu berusaha jadi fans anime / manga yang tetap berakal sehat. Gw suka dengan banyak karakter anime atau manga, tapi ya nggak berarti gw mau kawin sama mereka. Yang gw suka itu karakternya, sikap mereka, cara mereka dihidupkan dan dilukiskan. Mereka sama aja kok kayak karakter-karakter dalam drama. Cuma bedanya mereka nggak dieprankan sama orang yang hidup aja. Cuma gambar yang bergerak dengan teknologi animasi.

That's absolutely not a problem.

So when will all the different treatment of J-entertainment fans will come to and end? I dont think it will come soon. But just remember. We're not doing something wrong. Keep proud of this hobby, and show them that we can be a better person with this likings. :))


iPersonic personality test!

was just tagged by my friend in FB about this personality test.. try it! I personally think it's quite accurate.. xD


Try it here >> http://www.ipersonic.net/id/test.html


And this is my result :

Pelaku Individualistis


Tipe Pelaku Individualistis adalah orang-orang yang yakin akan diri sendiri dan sangat mandiri. Mereka orang-orang yang pendiam dan realistis, sangat rasional, dan sangat tegas. Mereka memelihara individualisme mereka dan senang menerapkan kemampuan mereka pada tugas-tugas baru. Namun mereka juga adalah orang-orang yang sangat spontan dan impulsif yang suka mengikuti inspirasi sekonyong-konyong mereka. Tipe Pelaku Individualistis adalah para pemerhati yang baik dan tajam yang menyerap segala sesuatu yang terjadi di sekitar mereka. Namun demikian, mereka tidak terlalu peka dalam hubungan antar manusia dan terkejut ketika sesekali membuat orang tersinggung dengan sikap blak-blakan dan lugas mereka. Mereka tidak terlalu menyukai kewajiban; namun jika Anda memberi mereka ruang, mereka adalah orang-orang yang sesungguhnya tidak rumit, mudah bergaul, dan periang.

Tipe Pelaku Individualistis menyukai tantangan – aksi dan hal-hal yang dianggap aneh adalah bagian dari kehidupan mereka. Mereka suka mencobai nasib dan banyak orang tipe ini memiliki hobi berisiko seperti skydiving atau bungee jumping. Ini juga berlaku pada kehidupan sehari-hari mereka. Tipe Pelaku Individualistis mampu mengatasi situasi-situasi kritis; mereka dapat menangkap situasi, membuat keputusan, dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan dengan sangat cepat. Hirarki dan otoritas tidak terlalu membuat mereka terkesan; jika seorang atasan tidak kompeten, mereka tidak akan terlalu menghormatinya. Tipe Pelaku Individualistis suka menerima tanggung jawab. Mereka memiliki kepekaan terhadap realitas yang menonjol dan selalu menemukan solusi yang paling tepat dan praktis untuk sebuah masalah. Mereka melerai konflik secara terbuka dan langsung; di sini, kadang-kadang mereka tidak terlalu peka namun mereka sendiri juga dapat menerima kritik dengan sangat baik.

Sebagai teman, tipe Pelaku Individualistis setia dan penuh pengabdian; mereka hanya memiliki beberapa hubungan pertemanan namun banyak di antaranya berlanjut seumur hidup. Orang senang berbicara dengan mereka karena sikap optimis mereka dalam memandang kehidupan dan kemampuan mereka untuk mendengarkan. Namun demikian, mereka lebih suka membicarakan minat dan hobi yang sama ketimbang isu-isu teoritis atau filosofis – hal-hal itu tidak cukup nyata bagi mereka. Mereka membutuhkan banyak kebebasan dan waktu bagi diri sendiri dalam hubungan asmara namun, pada saat bersamaan, mereka juga sangat toleran terhadap pasangan mereka. Sangat jarang tipe Pelaku Individualistis jatuh cinta hingga mabuk kepayang. Mereka terlalu rasional. Mereka lebih suka memilih pasangan berdasarkan kesamaan minat dan kegemaran yang ingin mereka bagi bersama pasangan tersebut. Tipe Pelaku Individualistis tidak terlalu menyukai emosi yang meletup-letup. Mereka lebih suka membuktikan cinta mereka dengan tindakan dan mengharapkan hal yang sama dari pasangan mereka. Barangsiapa berharap mengikat diri dengan seorang Pelaku Individualistis membutuhkan banyak kesabaran. Butuh beberapa saat sebelum tipe kepribadian ini bersedia terlibat dengan orang lain.

Happily [N]Ever After

Yeaaa, minggu kemaren kita uda menyaksikan pernikahan paling heboh, ampe dijulukin Pernikahan Abad Ini, antara Prince William dan Kate Middleton. Oh, mungkin sekarang mestinya mereka dipanggil Duke and Duchess of Cambridge yah...Gelar barunya kan itu? xP

Photobucket
Congratulation to the newly wedz~

Eniwei, gw tau apa pendapat dunia tentang pernikahan itu. Everybody says it was a very gorgeous wedding, and it's like a fairy tale comes true, when an ordinary girl like Kate Midd married a prince. Every girl in this world wants a prince (even better in his white horse), and I admit, no exception for me too. But the question here: is The Royal Wedding really that beautiful, after all?

Here I offer different perspectives.

Hal pertama yang harus diluruskan di sini adalah kenyataan bahwa Prince William bukan Pangeran. Oke. Gw tau dia 'pangeran', tapi dia bukan pangeran sebagaimana yang dibayangkan dan diharapkan tiap cewek. Dia bukan tokoh dongeng, lho. Dia manusia biasa yang kebetulan lahir di sebuah negara yang menganut bentuk negara monarki, dan kebetulan juga lahir sebagai keturunan dari pemimpin negara monarki itu (dulu Raja, sekarang Ratu) yang disebut Pangeran / Prince. Secara teknis, dia ga ada bedanya dengan Edhie Baskoro Yudhoyono yang sama-sama putra dari seorang kepala negara.

Selain itu, kegiatannya juga ga beda jauh dengan manusia biasa kebanyakan, meski mungkin agak beda dikit karena gimana pun dia tetap keturunan dari pemimpin negara monarki. Tapi, selain kenyataan itu, dia tetep orang biasa juga yang harus ke sekolah untuk belajar (kalo ga nanti jadi bego dong wkwkkw), seneng clubbing, rambutnya bakal jadi botak (yg skrg juga uda mulai keliatan), dsb.

So, jangan berharap William bakalan naik kuda putih, lalu melakukan hal-hal romantis kayak pangeran di cerita dongeng, membangunkan tuan putri yang koma dengan true love's kiss, menyelamatkan kita dari Ibu Suri yang kejam dan sebagainya. Belum tentu juga nantinya William bisa menyelamatkan Kate Middleton dari 'Sang Ibu Suri'. :p

Yang kedua yang harus diluruskan adalah pendapat orang bahwa menikah dengan anggota keluarga kerajaan, apalagi menikahi pangerannya, akan membuat hidup kita (terutama yang cewek) jadi seindah langit ketujuh.

Hei, kepikiran gak kalo kita mungkin harus mati tujuh kali dulu juga untuk bisa mencapai langit ketujuh? Itu dia yang jadi problemnya. Di kulitnya, mungkin nikah dengan anak bangsawan bakal membawa kita tinggal di kastil (atau setidaknya rumah deh) yang mewah, dengan perabot-perabot nomor satu, dll. Kita juga akan jadi orang terkenal, sering berkumpul dengan orang-orang penting, punya koneksi, kemana-mana dimintain tanda tangan, orang-orang ngikutin gaya kita, iri dengan kehidupan kita, dsb.

Yang harus diinget, yang dinikahin Kate Middleton itu calon Raja Britania Raya masa depan, lho. Berapa lama sih segala kemewahan hidup bangsawan bisa kita nikmatin dengan beban berat sebagai istri seorang (calon) Raja? Apalagi dengan mata seluruh rakyat, bahkan dunia, yang melihat segala tindak-tanduk mereka, satu hal kecil pun bisa merusak segalanya. Kebayang gak tuh betapa si cewek harus tiap saat tampil sempurna, baik dari tutur kata, sikap, keputusan, dll? 'Baru berusaha' untuk menjadi sempurna aja udah berat, apalagi ini yang setiap saat wajib tampil sempurna, kalo ga mau dihina-dina masyarakat.

Belum lagi segala tata krama kerajaan yang harus diikutin oleh Kate, dan juga tata krama seluruh daerah Britania Raya yang harus dia kuasain. Ambil contoh table manner deh. Salah satunya bilang kita ga boleh ngabisin makan lebih cepet dari Ratu, dan kalo Ratu udah abis makanannya, maka kita ga boleh terusin makan. Nah lhooo,table manner aja uda tergolong ribet, belom lagi "manner-manner" yang laen. Nah, kalo dia sampe gak sanggup nguasain semuanya, masa sih Ratu bisa bersabar terus? Who knows, kan? William mungkin udah minta waktu ke neneknya supaya ngasih waktu ke Kate untuk belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan kerajaan, tapi yang bakal terjadi di masa depan kan ga pernah bisa ditebak. Dan segala tata krama kerajaan si Pangeran udah bisa dipastikan bakal sangat membatasi kehidupan kita. Ga bakal mungkin kita bisa seru-seruan ketawa lagi bareng temen-temen kita, ngumpul semaleman suntuk, ngobrolin hal-hal dari yang bener ampe yang gak bener, ngata-ngatain org yg gak kita suka, dsb. Semua kesenengan kita yang kecil tapi berarti bisa aja hilang dalam sekejap mata. Jadi anggota keluarga kerajaan juga ga bisa sembarangan bergaul karena semua berkaitan dengan imej publik.

Pertanyaan berikutnya, emang enak kehidupan kayak gitu? Pernikahan mereka boleh aja dibungkus dengan kemasan super menarik, dengan gereja paling indah di dunia, tamu-tamu undangan semua orang terkenal dan penting, dll. Tapi itu cuma kebahagiaan selama beberapa jam aja. Kehidupan mereka yang sesunguhnya toh baru bakal dimulai nanti, kan?

Kalo gw ya, gw pengen seorang 'Pangeran', tapi bukan dalam arti harafiah kayak Pangeran William, ato Pangeran Harry, atau pangeran-pangeran dari kerajaan-kerajaan laennya di dunia. I want an ordinary man who's a prince inside. Cowok yang dengan santai bakal makan roti panggang bermentega bareng kita ketika tengah malam sambil bercandaan, cowok yang membela kita dan membantu kita saat kita kesusahan, orang yang bakal menenangkan kita saat kita sedih dan marah, yang memberikan kita kasih sayang dan perasaan nyaman sekaligus, seorang biasa yang pada intinya akan membuat ceweknya merasa mereka adalah seorang "putri" yang spesial. .
:))

But still, anyway, I wanna say congratulation to W&K! I do really hope their marriage last for long. Jagalah istrimu baik-baik, Will.. And Kate, after what I've been writting in this post, u're still one hella lucky woman! Do take care of ur hubby and make him proud! :))

Book Review: VAMPIRE ACADEMY (Series)

First question:

Apa yang ada di otak Anda saat baca judul VAMPIRE ACADEMY?

Buat gw, jujur aja, pertama kali diminta temen gw, Grace (aka Iche) untuk baca novel ini, gw SANGAT sangsi. Ga lain ga bukan karena gw sedikit trauma beli-beli novel bertema makhluk penghisap darah ini semenjak gw beli Twilight. Dulu, pas beli Twilight, gw berharap ketinggian sama novel ini, berharap bakal dapet kisah romance-fantasy yang bagus, tapi kenyataannya yang gw dapet malah cerita yang sangat dangkal dan ga terasa romance-nya.

Tapi terbukti semuanya salah pas gw baca Vampire Academy (disingkat VA).

Entah kenapa, sekitar dua mingguan yang lalu, tiba-tiba gw kepengen baca review tentang buku ini (palagi si Iche uda wanti-wanti bener suru baca). Jadilah gw buka Wikipedia dan baca sedikit ulasannya di situ. Dan wow, baca ulasannya pun bikin gw cukup deg-degan dan penasaran pengen baca. Lalu akhirnya, setelah gw cari di tiga Gramed (yep, pada abis dimana-mana neh), gw pun nemu tu novel di Mall Taman Anggrek. Langsung aja gw samber.

Pulangnya, gw ga langsung baca tu novel karena saat itu gw lagi ujian, jadi gw pikir gw mau belajar dulu. Begitu gw mau tidur, seperti biasa insomia gw kumat, jadi gw pikir mending gw baca aja tuh VA, siapa tau ketiduran. Lumayan tebel lho bukunya. Hahahahha..

Dan ternyata gw salah lagi! Begitu gw mulai baca, gw GAK bisa berenti. Serius. Rasanya bener-bener penasaran pengen tau apa yang ditulis di halaman selanjutnya, terus, dan terus lagi! Pada akhirnya sih gw berenti juga, coz uda nyaris jam setengah 3 hehehe.. Padahal gw ujian pagi. Jadi dengan berat hati gw terpaksa berenti baca.

So, emangnya gimana sih cerita novel ini sampe gw bisa bilang kalo gw addicted banget sama serial ini?

Cerita dimulai dari tokoh utama kita, Rose Hathaway, yang termasuk ras Dhampir (setengah manusia, setengah vampir) dan sahabatnya, Lissa Dragomir, seorang Moroi (ras vampir yang masih 'hidup', bisa mati, bisa memakai sihir). Keduanya sedang dalam pelarian dari Akademi St. Vladimir, sekolah swasta bagi para Moroi dan Dhampir, tapi pada akhirnya mereka diketemukan oleh sekelompok pengawal dan dibawa paksa kembali ke St. Vladimir.

Di St. Vladimir, perbuatan Rose yang membawa kabur Lissa Dragomir dikecam habis-habisan sama pihak sekolah. Penyebabnya karena Rose melarikan diri dari Akademi bersama Lissa yang merupakan bangsawan Moroi dan merupakan satu-satunya kaum terakhir dari klan Dragomir. Sedangkan di luar Akademi St. Vladimir, berkeliaran kaum-kaum vampir yang termasuk 'mayat hidup', yang disebut Strigoi. Strigoi adalah kaum vampir jahat yang mampu hidup abadi, dan mereka bisa bertambah kuat dengan meminum darah Moroi seperti Lissa. Rose sendiri adalah seorang Dhampir, di mana dhampir bertugas sebagai pengawal untuk melindungi Moroi. Tapi perbuatan Rose dianggap justru membahayakan Lissa sehingga akhirnya dia pun dihukum, dicopot dari tanggung jawabnya sebagai Pengawal Lissa Dragomir, bahkan diancam dikeluarkan dari sekolah, apalagi dia dianggap ga bakal mampu menyusul kurikulum dan mengikuti ujian akhir karena sudah kabur dari sekolah selama 2 tahun.

Tapi berkat jasa Dimitri Belikov, salah satu dhampir dan juga pengawal yang bertugas membawa Rose dan Lissa kembali ke Akademi, Rose ga jadi dikeluarkan, meski Dimitri jadi harus kena imbasnya juga dengan disuruh melatih Rose selama waktu-waktu tambahan (sebelum dan setelah jam sekolah) supaya Rose bisa mengejar ketinggalannya selama 2 tahun.

Jadi sejak itu, dimulailah kehidupan Rose dan Lissa kembali di Akademi St. Vladimir. Di situ, mereka dinyatakan aman terlindung karena Strigoi ga bakal bisa masuk ke lingkungan akademi (yang sudah ditamengi dengan sihir). Tapi yang Rose dan Lissa ga tahu, nyawa mereka juga terancam sama bahayanya dengan ketika mereka di luar Akademi. Selain berusaha keras untuk tetap menjadi Pengawal Lissa, Rose juga naksir dengan mentornya yang keren, Dimitri Belikov, yang sayangnya, tampak ga tertarik dengan dia. Masalah yang harus dihadapi Rose ga cuma itu. Dia juga mesti menghadapi orang yang diam-diam tampaknya selalu meneror sahabatnya, Lissa, masalah dengan guru-guru di Akademi yang tampaknya cuma menganggap dia sebagai biang onar, cowok berbahaya yang mendekati Lissa, dan lain-lain.

So what will happen in the end? Apa Rose dan Lissa bisa menyelesaikan semua permasalahan mereka? Apa dia bisa mendapat hati Dimitri?
Just read the books, and you will get all the answer :))

Satu yang pasti, buku ini ga akan bikin nyesel untuk dibaca! Kata-kata yang bisa melukiskan novel ini buat gw adalah marvellous dan un-put-downable! Alias bikin ga bisa berenti baca sebelum sampai titik terakhir kisahnya.

Selain tu, kelebihan novel ini menurut gw adalah gaya penceritaannya yang mengalir sehingga bikin kita enak bacanya. Plotnya cepat, penuh action yang bikin penasaran.

Karakter-karakter juga sangat likable, mulai dari Rose Hathaway yang badung, emosional, ga kenal takut, jago berantem, tapi sangat memperhatikan sahabatnya. And then Lissa Dragomir, yang rapuh tapi mampu berbuat apapun untuk Rose, lalu ada Dimitri yang kalem dan misterius tapi lembut dan melindungi, sampai karakter-karakter yang minor pun semuanya menarik. Dan terutama, bagaimana Richelle Mead, si penulis, menggali konflik, plot, dan karakternya yang terasa alami banget, ga dibuat-buat, dan ga maksa, sampai ke hubungan Rose dan Dimitri yang super bikin ketar-ketir, semua diracik dengan baiiikkk banget. :D

Yang pasti novel ne sangat recommended deh. 4 jempol pun ga cukup! Hahahahha.. Kalo ada yang mikir kalo novel ne bakal seburuk novel vampir laennya, jangan kuatir, karena gw yang sebelumnya males baca vampir-vampiran pun (cenderung anti malah) akhirnya jadi ketagihan banget. Terutama karena karakterisasi dan plotnya yang sangat beda dari semua cerita-cerita vampir laennya. Dan lagi, di novel ne, manusia (ato tepatnya, setengah vampir) lah yang melindungi si vampir, bukan vampir yang melindungi manusia, keren khan? :D

Dan lagiiii...
Buat kaum hawa nih, pasti bakalan jatuh cinta banget sama karakter-karakter cowoknya, serius deh ;)))

FYI, VA juga mau diangkat jadi film lho oleh Preger Films. So excited!! ^^

Di Indonesia, VA juga uda diterbitin oleh Penerbit Matahati (@fiksimatahati di twitter), meski baru sampe seri ketiganya, Shadow Kiss. Yang ke-4, Blood Promise, katanya sih keluar pertengahan tahun ini. Sooo ayo beli sekarang juga! xD

_____________


VAMPIRE ACADEMY SERIES
Photobucket

Author : Richelle Mead

Genre : Young Adult, Fantasy, Romance

Series:
#1 Vampire Academy
#2 VA - Frostbite
#3 VA - Shadow Kiss
#4 VA - Bloood Promise
#5 VA - Spirit Bound
#6 VA - Last Sacrifice

And because of this series popularity, soon will be released 6 spin-off series. The first one is titled "Bloodlines", to be released August 23, 2011 (Wiki).

ReBlog: Dan dengan Membuat Hollywood Ngambek Bisa Bikin Film Indonesia Maju? Pikir Ulang

Tulisan ne merupakan tulisan dari Mikael Dewabrata, situs lengkapnya di >> http://bicarafilm.com/baca/2011/02/20/dan-dengan-membuat-hollywood-ngambek-bisa-bikin-film-indonesia-maju-pikir-ulang.html

Credit : to owner

Lagi pengen ngpost tulisan-tulisan seperti ini karena stresss liat film-film yang diputer di Indonesia pada kurang menarik, dan gw masih berharap bisa nonton HP7 Part 2, Transformers 3, sekuel AVATAR, POTC 4, dll di bioskop..

________________________


Belakangan sedang marak soal pajak film impor yang meninggi. Meski yang sudah-sudah polemik seperti ini bakal terselesaikan, namun untuk kasus ini tampaknya beberapa hari ke depan akan ada perubahaan signifikan di dunia perbioskopan nasional. Tanagok.com berupaya untuk memberi pengayaan lain dari masalah ini. Di mana-mana keluhan lebih banyak kepada kurang kreatifnya film nasional di pasar. Tapi, itu tidak akan disinggung di sini. Biarlah film selangkangan jadi film selangkangan. Di sini hanya memberi garis bawah jika polemik pajak ini merupakan solusi industri film nasional, bahkan untuk langkah awal pun sepertinya terlalu gegabah. Berikut adalah mitos-mitos soal perfilman nasional yang bangkit akibat polemik ini.

1. Produksi Film Nasional terdesak akhir-akhir Ini karena film Hollywood

Mari kita hadapi sebuah kenyataan. Di belahan dunia manapun sebuah industri film lokal sudah dipastikan harus menghadapi hegemoni Spider-man, Harry Potter, dan kawan-kawan. Itu sekali lagi kenyataan jaman yang tidak bisa dipungkiri. Kelihatannya sih memang bioskop kelas XXI banyak menaruh film-film Hollywood sebagai marquee mereka. Tetapi, kalau mata digeser ke bioskop di daerah Rawamangun, Bekasi, atau nama-nama daerah yang jauh dari elit, dominasinya masih tetap film Indonesia. Malahan penonton bioskop-bioskop tersebut lebih memilih nonton film Indonesia ketimbang Amrik. Artinya, ruang untuk film Indonesia tampil itu sudah semakin besar, coba bandingkan dengan tahun 1999 ketika Kuldesak untuk bisa nyelip ke bioskop susahnya minta ampun. Terima kasih dengan Petualangan Sherina, film Indonesia akhirnya mendapatkan kepercayaan lagi dari publik dan pasar menjawab bahwa film Indonesia bisa laku. Jika dasar perjuangan film Indonesia dimulai dengan perjuangan berdarah-darah, kenapa lantas pemerintah malah membuat kebijakan sok populis mencari muka dengan dalih memberi ruang film nasional. Kesannya kalau cuma ada film Indonesia , mereka bisa lebih berbicara. Padahal bisa jadi bumerang, karena seperti sinetron, orang jadi tidak ada pilihan. Jadinya secara kualitas bisa saja bioskop Indonesia mengalami dekadensi mirip dengan yang terjadi di televisi.

2. Dengan hilangnya Hollywood, film Indonesia bisa lebih berkembang

Seperti ditegaskan di poin satu, ketika film Indonesia era sekarang dimulai dengan berdarah-darah, kenapa lantas seolah di-voor untuk perkembangan lanjutnya. Dengan bioskop yang ibarat raksasa lapar itu mau tidak mau harus diberi makan. Dengan permintaan tinggi, produser dituntut untuk lebih banyak bikin film. Kondisinya jadi sama saja. Secara produksi mungkin berkembang, tapi sampai kapan itu akan berkembang. Penonton bioskop tidak seperti penonton televisi karena mereka keluar uang tidak sedikit untuk menghabiskan waktu 2 jam di dalam gedung bioskop. Jelas mereka milih-milih. Jika akhirnya mereka jenuh, siap-siap saja studio dikurangi satu per satu. Karena konsentrasi masa hilang akibat bioskop sepi, film yang dijual tanpa word of mouth kuat di awal pemasaran jadi susah payah buat ngejual filmnya. Beda ketika masih ada Hollywood yang membuat film seperti Transformers jadi magnet. Setidaknya orang jadi melihat poster film Indonesia di bioskop saat mereka nonton film Hollywood. Lalu ketika bioskop bukan pilihan hiburan utama (yang sebelum ini merupakan hiburan murah), lalu sineas Indonesia yang lagi mulai jalan cepat ini mau diputar di mana? Di Monas, seperti kata Joko Anwar? Boleh juga sih, sekalian nonton bareng Ondel-ondel.

3. Kalau pun film impor tetap tayang, harga tiket naik nggak masalah karena film Indonesia nggak perlu naik harganya

Siapa yang bisa menjamin harga tiket untuk film Indonesia lebih murah dari film impor jika HTM nanti naik. Dari jaman 2000an awal harga tiket itu flat untuk rentang pemutaran waktu yang sama. Terutama membicarakan 21 ya. Mau filmnya dari Timbuktu atau dari New York, harga tiket sama saja. Nanti jika tiket naik pun, tidak jamin harga tiket film Indonesia jadi dimurahkan, terutama untuk bioskop kelas elit. Pertama pihak penyelenggara bioskop tidak merasa kalau harga tiket beda ini menjamin orang lebih memilih film yang tiketnya lebih murah. Orang malah mikir, jangan-jangan murah karena emang filmnya kacrut. Dan, karena orang memilih nonton film karena itu pilihan mereka. Mau tiketnya semurah apapun atau bahkan gratis pun kalau filmnya abal-abal orang juga nggak mau datang. Jika HTM naik, film Indonesia juga naik. Itu malah lebih mencekik leher lagi buat produser. Orang yang tadinya sudah milih-milih buat nonton film Indonesia jadi lenbih milih-milih lagi. Dengan begini ruang film Indonesia jadi dipersempit oleh pasar sendiri.

4. Tanpa MPA , film Impor (Hollywood) tetap bisa masuk Indonesia

Ini adalah pendapat super pede dari pejabat lokal. Entah mereka kebanyakan ngisep cimenk merek apaan, yang pasti kelihatan sekali mereka tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Terserah mereka dan silahkan saja cari sendiri film tanpa bantuan MPA, nanti juga dapetnya film seperti ini:

5. Pajak film Nasional itu tinggi, harusnya film impor juga nggak kalah tinggi

Kalau boleh jujur, argumen seperti ini tidak kalah singit. Bagaimana dua pajak yang berbeda dibandingan tegak lurus begini. Yang satu pajak untuk produksi yang memang variabelnya banyak, yang satu adalah pajak bea masuk tidak ada unsur produksi di dalamnya. Hollywood sudah bayar pajak produksinya sendiri di Amrik sono atau di Negara tempat mereka ambil gambar jika tidak di-syut di Amrik. Jelas lah kalau dilihat mata telanjang pajak produksi kita tinggi dibanding film luar. Jika mau diambil asas keadilan, sepertinya pendapat umum tentang bagaimana pemerintah seharusnya meringankan industri lokal bukan malah main api dengan pasar merupakan gagasan paling ideal. Walau itu juga tindakan nge-voor, tapi setidaknya ketika film selesai diproduksi pun produser harus bertarung lagi di bioskop (sebelum pajak ajaib ini diberlalukan) tetap harus bertarung secara tangan kosong.

6. Lalu, mana kontribusi pemerintah, kok tiba-tiba sok jadi pahlawan kesiangan gini?

Polemik film impor selama ini seolah adalah film Hollywood vs film Nasional. Padahal, satu yang sebenarnya masih memprihatinkan adalah kondisi perbioskopan. Ini industri loh, dan gimana industri mau maju kalau orang malas buka toko. Indonesia yang merupakan pasar Facebook nomor dua di dunia ini (ga keren lagi bow sebut negara berpenduduk 200 juta orang) ternyata bukan surga uang MPA. Ada yang bilang, pasar kita hanya 0,1 % dari total pendapatan Hollywood. Nggak ngaruh lah kalau hilang. Tinggal nambahin bioskop di China juga beres persoalannya buat nutup 0,1 %. Kenapa angkanya kok kecil ya. Ya, jelas lah bioskopnya kebanyakan di Jakarta. Sudah nggak jamannya lagi bioskop menjamur di setiap sudut negeri seperti jaman Pos Kota masih masang iklan bioskop setengah halaman. Dengan pajak setiap film terproduksi di Indonesia bisa 5 milyar sendiri per tahun, lalu mana dorongan pemerintah untuk buka layar di kota-kota. Kalau mengandalkan bioskop seperti Senayan City atau PIM 2 untuk menaikkan produksi film Nasional sepertinya susah. Antusias orang Indonesia masih tinggi abis kok. Lihat saja Melodi Kota Rusa yang jadi tontonan puluhan ribuan orang hanya di satu kota di Indonesia Timur sana.Sayangnya karena bioskop tidak ada, diputarnya model layar tancap atau malah cuma pakai proyektor kecil. Pemerintah sendiri juga sudah dapat pajak milyaran dari operasional bioskop juga loh, di luar film masuk dan film terproduksi. Boleh deh ada yang bisa menjelaskan, itu duit buat apa saja? Dulu Menbudpar pernah bikin sayembara skenario di mana yang menang dibiayai untuk dibikinin filmn. Tapi, eksperimen pertama gagal dan begonya bukannya belajar dari situ yang ada malah nyerah dan tidak jelas lagi program seperti itu masih ada apa nggak.

edisi blognya klik ke sini : http://bit.ly/i7ZChw

what time . . . ?

. . a r c h i v e s . .

. . tweet-tweetan . .

. . t e a . . b r e a k . .


ShoutMix chat widget

Followers